Kenali 5 Mitos Gunung Merapi, Ternyata Menjadi Tempat Pertemuan Nyi Roro Kidul

7 Mitos Seputar Gunung Merapi yang Dianggap Mistis - Regional Liputan6.com

Gunung Merapi mesti bukan gunung tertinggi atau terbesar di Indonesia, tapi selalu berhasil menyita perhatian banyak orang. Gunung api ini dikenal paling aktif ini terletak di tengah Pulau Jawa.

Tepatnya berada di 4 wilayah kabupaten sekaligus yaitu Magelang, Sleman, Klaten dan Boyolali. Tak hanya dienal keindahan alam dan tragedi letusannya, Merapi juga menyimpan banyak cerita mistis. Menariknya, sebagian besar mitos itu dipercaya sampai sekarang.

Berikut mitos Gunung Merapi yang telah dirangkum dari berbagai sumber berikut ini.

  1. Jeritan di Bungker Kaliadem

Gunung Merapi memiliki tempat perlindungan yang disebut dengan Bungker Kaliadem, yang digunakan warga sekitar untuk berlindung jika terjadi erupsi. Namun, saat erupsi 2010, ada warga yang berlindung di dalam bunker kemudian lahar yang turun memasuki bunker tersebut.

Sehingga menyebabkan warga di dalamnya terjebak dan meninggal. Kini bunker tersebut seperti kuburan yang mengubur warga yang terjebak di sana.

Tahun 2014, ada pendaki yang masuk ke dalam ruangan bunker tersebut melihat suasanya yang gelap dan sunyi, ada batu berbentuk aneh yang merupakan lahar kering yang memasuki bunker tersebut.

Ketika pendaki itu keluar dari bunker ia mendengar suara jeritan seorang perempuan dari dalam bunker tersebut.

  1. Pertemuan Nyi Roro Kidul dan Dewa

Nyi Roro Kidul, Ratu Laut Selatan, juga dikaitkan dengan Gunung Merapi. Mitos beredar bahwa Gunung Merapi adalah tempat pertemuan antara Nyi Roro Kidul dan Sang Hyang Ratu Jagat.

Legenda menyebutkan bahwa jika Nyi Roro Kidul datang ke Merapi untuk pertemuan tersebut, gunung ini akan meletus. Meskipun mitos-mitos ini mungkin terdengar fantastis, mereka mencerminkan kekayaan budaya dan spiritualitas masyarakat Jawa.

Gunung Merapi bukan hanya sekadar simbol alam, tetapi juga tempat yang sarat dengan makna mistis dan legenda yang terus diteruskan dari generasi ke generasi.

  1. Lagi Punya Hajat

Ada satu mitos yang dipercaya warga setempat ketika erupsi Merapi terjadi. Menurut artikel ‘Mitologi Gunung Merapi Sebagai Kearifan Masyarakat dalam memahami erupsi merapi di wilayah Cangkringan, Sleman, Yogkakarta,’ erupsi Merapi dipercaya bahwa gunung tersebut sedang duwe gawe atau punya hajat.

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat akan hukum pinasti atau takdir. Artinya, mereka yang meninggal, cedera, dan kehilangan harta karena erupsi Merapi, dipandang sebagai sebuah takdir.

Meskipun sawah, hewan ternak, dan ladang mereka hancur akibat erupsi, namun masyarakat percaya bahwa Merapi akan menggantinya dengan berlipat ganda.

  1. Pasar Bubrah di Gunung Merapi

Mengutip dari laman resmi Museum Gunung Merapi, masyarakat percaya bahwa terdapat Pasar Bubrah di bawah puncak Gunung Merapi. Pasar Bubrah itu sendiri merupakan nama dari masyarakat untuk menyebut pasar gaib yang diyakini ada di wilayah tersebut.

Lokasi Pasar Bubrah itu sendiri berada di salah satu jalur pendakian Gunung Merapi. Di tempat tersebut berserakan batu-batu besar yang dianggap sebagai perwujudan meja dan kursi makhluk halus.

Banyak pendaki Gunung Merapi yang kebetulan lewat di wilayah tersebut merasa mendengar suara riuh pasar. Pasar tersebut diyakini merupakan bagian dari Kerajaan Merapi atau Keraton Merapi yang penghuninya berasal dari dunia gaib.

  1. Erupsi Adalah Amarah Penjaga

Catatan sejarah mengatakan, dahulu Gunung Merapi memiliki nama Jamurdipa. Saat itu, Jamurdipa berlokasi di Laut Selatan Jawa.

Suatu ketika, para Dewa menginginkan Jamurdipa dipindahkan ke tengah sebagai penyeimbang. Namun, saat itu penjaga Jamurdipa yang merupakan kakak-beradik perajin keris, belum menyelesaikan pekerjaannya dan meminta waktu tambahan kepada Dewa.

Sayangnya, Dewa menolak hal tersebut. Kedua penjaga yang tersulut emosinya pun mengancam akan memunculkan petaka abadi di Gunung Merapi, salah satunya berwujud magma yang terus memanas hingga sekarang.